Menumbuhkan Jiwa Sociopreneur Muda - Indonesia Sociopreneur Challenge (ISoC) 2016

Feb 27 | News | Stevanus Chandra

Jakarta - Pengelolaan sampah yang berwawasan lingkungan, menjadi budaya baru di Indonesia. Kesadaran kolektif masyarakat untuk mulai memilah, mendaur-ulang, dan memanfaatkan sampah agar mempunyai nilai jual yang cukup baik, harus terus dipacu dan diberdayakan. Adalah Juni Kuswanto (24 tahun) wirausahawan muda yang peduli akan masalah lingkungan, khususnya sampah di Indonesia. Dirinya mendirikan PT BJSC Aquagro Mandiri yang berlokasi di Surabaya, Jawa Timur (Jatim).

Perusahaan ini mengelola dan memberdayakan sampah dari barang yang tidak berguna menjadi barang yang bernilai guna.Melalui perusahaan tersebut, Juni melakukan terobosan baru dalam proses pengolahan sampah dengan mengintegrasikan berbagai aspek, yaitu masyarakat, industri, dan pemerintah. Uniknya, Juni juga memberdayakan kalangan pecandu narkoba untuk memilah dan mengolah sampah menjadi pakan konsentrat ikan, ayam, dan bebek yang berkualitas dan murah, sehingga dapat meningkatkan produktivitas peternak di Indonesia.Langkah yang dilakukan oleh Juni ternyata tidak hanya mampu menyelesaikan persoalan sampah semata. Upaya yang dilakukannya juga menjadi solusi untuk mengatasi persoalan sosial seperti masalah narkoba dan penciptaan lapangan kerja bagi pengangguran.

Kerja keras dan inovasi yang dilakukan Juni akhirnya terbayar dan mendapatkan apresiasi, dengan terpilih sebagai pemenang Best of The Best dalam kompetisi Indonesia Sociopreneur Challenge (ISoC) 2016.Ia menyebutkan, ISoC 2016 merupakan kompetisi berskala internasional yang diadakan oleh Program Studi Technopreneurship Surya University, Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda), dan Dinas Kebersihan Pertamanan dan Pemakaman (DKPP) Kota Tangerang Selatan (Tangsel). Kompetisi yang mengambil tema Waste Around Us ini, menjadi ajang bagi para sociopreneur untuk berkontribusi dalam menjawab permasalahan sampah di Indonesia, khususnya di daerah Tangsel.Terdapat tiga kategori lomba yang dapat diikuti peserta dalam kompetisi ISoC 2016, yaitu Applied Technology, Apps, dan Educational Campaign. Untuk kategori Applied Technology dan Apps terdapat dua tahap yang terdiri dari ide (idea stage) dan start-up (start-up stage), sedangkan untuk Educational Campaign dibagi menjadi dua kriteria, yaitu Pelitas dan Non Pelitas. Serangkaian proses telah dilakukan sejak pendaftaran dibuka pada 21 Februari 2016 oleh Wali Kota Tangsel, Airin Rachmi Diany, di Bintaro Jaya Xchange Mall.

Terdapat 11 finalis yang berhasil lolos tahap seleksi dan mengikuti Bootcamp (20-27 November 2016) di Hotel Santika, BSD, Tangsel.Selama Bootcamp, para finalis memperoleh pembekalan materi terkait social entrepreneurship dari para juri dan mentor yang berasal dari dalam maupun luar negeri. Mereka adalah Dessy Aliandrina, PhD (Head of Technopreneurship Department Surya University dan juga Founder SociopreneurID), Ir. M. Taher Rochmadi (Kepala Dinas DKPP, Tangsel).Selain itu, ada pula Prof. Josette Dijkhuizen (Professor of Entrepreneurship Development, MSM Netherlands), Dr. Holly Ritchie (Consultant and Researcher on Value Chain), Dr. Dudi Iskandar, MFor.Sc (Direktur Technopreneurship dan Kluster Industri BPPT), dr. Gamal Albinsaid, MD (CEO Indonesia Medika), Lukitasari Sunowo (Sutradara dan Filmmaker), dan Sartika Kurniali (IT Specialist dan Google Team).

Acara puncak (Gala Dinner) dilaksanakan pada 25 November 2016 di Damai Indah Golf, BSD yang dihadiri Wali Kota Tangsel, Airin Rachmi Diany. Dalam sempatan ini, Airin memberikan sambutan dan menyerahkan hadiah kepada para pemenang ISoC 2016. Pemenang kategori Applied Technology tahap ide adalah tim Adhi Susatyo, dengan runner-up tim Evans Jahja. Untuk kategori yang sama pada tahap start-up dimenangkan oleh tim Juni Kuswanto, dengan runner-up tim Christian Mwijage dan Budi Agung.Pemenang kategori Apps tahap ide adalah tim Riznaldi Akbar, dengan runner-up tim Naraswari Cinantya Dewi. Pemenang Educational Campaign untuk kategori Pelitas adalah tim Hilmi Fabeta dengan runner-up, tim Jordy Elalno, sedangkan untuk kategori Non Pelitas adalah tim Annisa Hasanah dengan runner-up, tim Diandra Annisa. Dengan adanya dukungan dari Pemkot Tangsel, para pemenang kompetisi ini diharapkan dapat mengimplementasikan idenya. ISoC juga diharapkan dapat menjadi jembatan penghubung bagi akademisi, swasta, dan pemerintah dalam memecahkan permasalahan sosial, khususnya di wilayah Tangsel.

About Author
1

Stevanus Chandra

Co-Lead Program, Designer, and Researcher

Stevanus explores the intersection of social innovation and human-centered design. A social impact analyst. Driven by research and ethnographic approach. Read More