BCreator: Be a Creative Innovator

Feb 27 | Case Study | Stevanus Chandra
Bcreator 2

2015 hingga 2017 menjadi dua tahun terburuk dalam sejarah taksi di Indonesia. Pada akhir tahun 2014 di Jakarta tercatat terdapat 35 perusahaan taksi konvensional yang beroperasi. Namun, pada awal tahun 2017 hanya tersisa 4 perusahaan taksi yang masih bertahan dan 31 perusahaan taksi lainnya gulung tikar . Sebagai salah satu taksi konvensional yang telah bermain semenjak tahun 1965 harus tertunduk dengan beberapa pemain taksi online yang baru 2 tahun di Indonesia. Fenomena ini adalah kenyataan dari Indonesia belum siap menghadapi tantangan global terutama dalam bidang teknologi. Kejatuhan perusahaan-perusahaan yang telah puluhan tahun di Indonesia tidak mampu bersaing dengan penantang baru pada dunia teknologi tentu akan tergilas habis oleh karenanya. Perusahaan-perusahaan ini menghidupi ribuan tenaga kerja dan karena faktor kalah bersaing maka mengharuskan mereka merumahkan para pekerja-pekerjanya. Hal ini tentu menjadi masalah pada sektor ekonomi dan sosial di Indonesia.

Teknologi telah menjadi bagian peradaban manusia saat ini. Oleh sebab itu tidak bisa dihindari lagi terhadap pengembangannya. Teknologi telah menggantikan berbagai pekerjaan di seluruh dunia saat ini. Penelitian Oxford University menyatakan bahwa sebanyak 47% dari seluruh pekerjaan di dunia akan segera hilang karena kerena akan tergantkan oleh teknologi.  Tentu hal ini merubah peta lanskap dari peta bisnis di Indonesia di masa depan.
Selain ekosistem bisnis yang belum cukup stabil setelah berbagai perusahaan besar jatuh, keberadaan tenaga kerja di Indonesia belum memenuhi aspek yang dibutuhkan perusahaan menghadapi kemajuan teknologi. Hal ini dibuktikan lulusan SMK Indonesia menempati pendidikan dengan tingkat pengangguran tertinggi di Indonesia yaitu sebesar 11,41%. Hasil ini bertolak belakang dengan keberadaan SMK beberapa tahun yang lalu dianggap sebagai angkatan yang siap untuk bekerja. Pada lain sisi, perusahaan-perusahaan lebih memilih untuk mempekerjakan orang asing dibandingkan masyarakat Indonesia dalam pengembangan bisnisnya. Kondisi ini memaksa pada tingkat pendidikan di bawahnya harus dipersiapkan lebih matang dalam menghadapi tantangan bisnis dan ekonomi pada masa depan.

Discovery Learning dan Experimential LearningMelalui laporan MENKOMINFO bekerja sama dengan UNICEF menyatakan sebanyak 30 juta anak-anak dan remaja Indonesia saat ini bebas mengakses internet . Artinya, mereka sudah dapat merasakan kemudahan mengakses apapun di internet dimulai dari pencarian, video game, website, komik dan berbagai konten lainnya. Namun, kemudahan ini tidak dimanfaatkan secara benar dan mendorong mereka kepada anti sosial dan malas untuk bergerak. Berkembangan teknologi algoritma yang diciptakan oleh berbagai platfor media sosial telah menjadikan mereka menjadi kebergantungan yang cukup parah. Algoritma bekerja dengan menampilkan pada media sosial mereka apa yang mereka sukai dan biasa mereka cari . Pada akhirnya, anak-anak disodorkan dengan berbagai macam konten yang membuat mereka menjadi kebergantungan dengan media sosial dan melupakan lingkungan di sekitarnya. Anak-anak hanya mengetahui dunia yang hanya mereka suka saja namun menjadi skeptis dengan dunia yang berbeda dengan keinginannya.

Butuh adanya sebuah solusi untuk menyelesaikan permasalahan ini yang menyasar pada generasi muda untuk mempersiapkan mereka menjadi generasi yang lebih berkualitas. Pada level ini, anak membutuhkan metode yang relevan dalam menghadapi kemajuan teknologi dan dampaknya. Discovery Learning adalah sebuah metode pembelajaran yang dikembangkan dengan menyediakan informasi dan peluang sehingga memberikan tantangan kepada mereka untuk menemukan hal tersebut. Selain itu,  Experiential Learning dianggap sebagai metode pembelajaran yang mampu membuat anak melakukan pembelajaran dengan berdasarkan pengalaman. Kedua metode pembelajaran ini dapat digabungkan dan memberikan pengalaman berbeda kepada anak untuk melatih pola pikir dan mereka lebih mengenal berbagai permasalahan sosial lebih dini.

BCreator - Be a Creative Innovator
BCreator merupakan workshop satu hari yang ditujukan kepada anak muda dengan mengadopsi discovery learning dan experimential learning melalui serangkaian aktifitas yang menyenangkan untuk menstimulasi kemampuan kreativitas dari setiap peserta. Program ini memberikan pemahaman terhadap mereka akan tantangan dan permasalahan yang dihadapi di dunia dengan mencari solusi untuk menyelesaikan permasalahan tersebut.

Potensi Masa Depan
Teknologi sudah mendarah daging dalam kehidupan masyarakat Indonesia saat ini. Menurut World Economic Forum, walau teknologi telah menggantikan pekerjaan manusia masa kini namun perkembangan teknologi menciptakan lapangan kerja baru yang berhubungan dengan teknologi. Dalam laporan yang dikeluarkan PwC sebanyak 53 perusahaan minyak dan gas di Indonesia ingin lebih sedikit mempekerjakan orang asing di perusahaannya. Hal ini merupakan peluang besar di mana sumber daya manusia di Indonesia dapat dimaksimalkan untuk memenuhi tuntutan pekerjaan yang semakin dominan. Oleh sebab itu, kemampuan kreativitas dan pengetahuan mereka sejak dini harus dimaksimalkan untuk sebagai solusi dari permasalahan ini.


Ditulis oleh: Christian Putra
Disunting oleh: Stevanus Chandra


About Author
Chandra

Stevanus Chandra

Designer and Researcher

Stevanus is an art enthusiast. Art has guided him to engage with various creative works and development. Being an art designer develops his understanding on human being, which l... Read More