FeSoVity: Festival of Social Creativity

Feb 27 | Case Study | Stevanus Chandra
 mg 9419


Tahun 2017 menjadi tahun kelam bagi perusahaan retail nasional. Dengan dimulainya pengumuman penutupan seluruh gerai Seven Eleven milik Modern Internasional Tbk di Indonesia hingga penutupan sejumlah toko retail Matahari dan berbagai toko retail lain seperti GAP, Lotus, Debenhams. Pasar retail yang tidak bergairah membuat posisi Indonesia dari peringkat 5 pada tahun 2016 lalu turun menjadi peringkat 8 pada tahun ini berdasarkan Global Retail Development Index yang dikeluarkan ATKearney. Dengan kondisi seperti ini menyebabkan dampak yang buruk terhadap perekonomian dan meningkatnya pengangguran di Indonesia.

Pengangguran di Indonesia per Agustus 2017 tercatat mengalami peningkatan sebanyak 10.000 orang, sehingga secara total pengganguran Indonesia berjumlah 7 juta orang. Pada sektor wirausaha tidak jauh berbeda kondisinya. Diantara sebanyak 252 juta penduduk Indonesi, rasio wirausaha Indonesia masih pada angka 3.1% yang mana lebih rendah daripada negara-negara lain seperti Malaysia (5%), Singapura (7%), China (10%), Jepang (11%). Permasalahan ini menimbulkan dampak pada sektor ekonomi dan sosial dan menjadi sebuah permasalahan nasional yang kompleks. Namun usaha pemerintah untuk memperbaiki kondisi ini tentu membutuhkan dana yang tidak sedikit. Pada tahun 2016 saja, pemerintah telah menggelontorkan dana sebesar 100 Triliun rupiah dan mengeluarkan gerakan 1000 startup untuk mendongkrak pertumbuhan pengusaha muda di Indonesia. Namun, Forbes menemukan bahwa 90% startup mengalami kegagalan. Oleh karena itu, langkah pemerintah memiliki resiko yang tinggi.

Kemunduran industri retail serta kegagalan startup tersebut besar faktornya disebabkan oleh manusia. Dimulai dari pengembangan produk serta perkembangan zaman yang serba praktis menuntut industri serta manusia di dalamnya harus berpikir kreatif untuk terus berinovasi. Menjawab kebutuhan ini, menurut World Economic Forum skill kreativitas pada tahun 2020 menduduki posisi 3 tertinggi skill yang paling dibutuhkan. Namun pada kancah ini, Indonesia hanya dapat menduduki peringkat 87 dari 127 negara di dunia menurut survei dari Global Innovation Index 2017. Hal ini sangat terbelakang dari beberapa negara asia tenggara seperti Singapura yang telah mampu mencapai peringkat 7 dunia, Malaysia peringkat 37, dan beberapa negara lain yang berada di atas Indonesia. Permasalahan rendahnya skill kreativitas merambat ke berbagai sektor lain dan menyebabkan kerugian akibat pergerakan kreativitas yang stagnan masyarakat Indonesia sehingga kalah bersaing. Masalah ini telah mengakar cukup dalam di sistem pendidikan kita sehingga siswa telah tercetak menjadi kaku dan sulit bersaing pada dunia kerja maupun dalam pengembangan dunia entrepreneur.

Permasalahan yang begitu kompleks menyebabkan kerugian dan kemunduruan di berbagai sektor mulai dari pemerintah, pengusaha, serta masyarakat sehingga masalah ini menjadi permasalahan sosial nasional. Maka menjadi sebuah pertanyaan, siapakah yang bertanggung jawab untuk menyelesaikan permasalahan sosial ini?

Apakah jawabannya adalah pemerintah seorang ? Sepertinya tidak. Pada kenyataannya pemerintah tidak bisa berdiri sendiri untuk menyelesaikan masalah sosial ini. Demi mewujudkan Indonesia yang matang akan sumber daya manusianya, permasalahan ini menjadi tanggung jawab kita semua. Tanggung jawab ini dapat diwujudkan jika berbagai stakeholder yang meliputi pemerintah, sektor swasta,  komunitas, akademisi, hingga masyarakat bekerja sama melalui kolaborasi untuk menyelesaikan masalah sosial ini.

Kolaborasi sebagai ujung tombak menyelesaikan masalah sosial
Beberapa tahun ini, dengan seiring berkembangnya permasalahan yang semakin kompleks dunia digaungkan untuk bersatu menyelesaikan permasalah sosial. Sesuai dengan target dari SDG ke 17 untuk berbagai sektor merapatkan barisannya untuk mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan. Pemerintah sebagai sektor publik harus mampu menetapkan arah dan memonitor sektor-sektor lain untuk menyelesaikan permasalahan sosial  terutama pada sektor pendidikan. Sektor akademisi melalui penelitian dan dapat mengambil dalih untuk mengembangkan dunia pendidikan dengan kreativitas sejak dini. Pada sektor swasta sebagai tanggung jawab untuk kontribusi sosialnya dapat membantu memfasilitasi demi kelancaran mencapai pendidikan kreativitas yang berkelanjutan. Peran yang tidak kalah penting adalah sektor masyarakat dan komunitas, di sinilah peran mereka di butuhkan dalam menumbuhkan kreativitas anak melalui pendidikan non formal.
Semangat kolaborasi seperti ini adalah sebuah identitas Indonesia yang lebih dikenal sebagai gotong royong.  Namun, perkembangan dunia yang terus bergerak dan semakin maju mulai melunturkan semangat ini. Masyarakat Indonesia mulai kehilangan empati untuk mewujudkan pendidikan Indonesia yang lebih baik. Oleh sebab itu, dibutuhkannya sebuah media kolaborasi yang tepat menyasar kepada semua stakeholder untuk terlibat. Media yang dapat mempromosikan kesadaran untuk mendorong masyarakat untuk mengubah persepsinya menjadi bagian dari solusi bekerja sama.

FeSoVity : Festival of Social Creativity
Festival of Social Creativity lahir sebagai bentuk manifestasi empati sosial melalui serangkaian kegiatan bertemakan kreativitas yang didesain untuk anak sekolah dasar. Melalui festival ini FeSoVity berperan penting sebagai sebuah festival kolaborasi yang menggandeng para pemangku stakeholders dari pemerintah, sektor swasta, akademisi, komunitas, hingga masyarakat untuk turut berperan aktif mengambil bagian dalam meningkatkan kreativitas sejak dini. Selain itu, FeSovity merupakan acara puncak dari serangkaian acara yang mempromosikan empati dan kreativitas seperti AHAI (Anak Hebat Anak Indonesia), Byte, dan BeCreator.Dimulai pada tahun 2015, ‘The Voice of Kids’ dipilih sebagai tema 2015 dalam rangka membangun kesadaran bahwa setiap anak memiliki hak untuk dibimbing dan mendapatkan pendidikan. FeSoVity 2017 mengusung tema ‘Children as History Maker for Changing the world’. Bertujuan untuk mendorong anak-anak berani bermimpi besar, dalam rangka membuat dunia menjadi tempat hidup yang lebih baik.


Ditulis oleh: Christian Putra
Disunting oleh: Stevanus Chandra

About Author
Chandra

Stevanus Chandra

Designer and Researcher

Stevanus is an art enthusiast. Art has guided him to engage with various creative works and development. Being an art designer develops his understanding on human being, which l... Read More