BYTe: Bootcamp for Young Technopreneur

Feb 27 | Case Study | Stevanus Chandra
Dsc 4240

Dunia bisnis saat ini menemui banyak titik buntu. BPS menyatakan pada tahun 2012 hingga 2017 terjadi kenaikan UMR (Upah Minimum Regional) di kota Jakarta yang pada mulanya Rp. 1.529.000 naik hingga Rp. 3.355.750 , hal ini berarti UMR mengalami kenaikan lebih dari 50% dalam 5 tahun terakhir. UMR yang terus meningkat setiap tahunnya seperti menjadi mimpi buruk setiap perusahaan saat ini. Fenomena ini berimplikasi terhadap bergugurannya satu per satu perusahaan yang tidak mampu membayar gaji karyawannya .

Selain itu, perusahaan mengalami permasalahan lain datang dari karyawannya itu sendiri. Dalam sebuah keterangan yang dikeluarkan oleh perusahaan menyatakan mereka mengalami kesulitan dalam mencari tenaga kerja di Indonesia.  Hal ini menjadi tidak relevan dengan kondisi tingkat pengangguran di Indonesia yang mencapai 7 juta orang. Kurangnya tenaga kerja yang berkualitas dan mengharuskan mereka untuk menggaji orang asing dengan bayaran yang lebih tinggi. Namun, hal ini menjadi sebuah pertanyaan apakah tenaga kerja Indonesia tidak berkualitas?

Teknologi – Baik atau Buruk?

Melihat kebelakang melalui perkembangan jaman, Tak terasa teknologi masa kini mendorong manusia kepada dunia yang praktis dan mengubah pola hidup masyarakat sekalipun. Sebesar 132,7 juta pengguna internet berasal dari Indonesia pada tahun 2017. Perkembangan internet yang begitu pesat menyebabkan berbagai implikasi yang berdampak pada berubahnya pola belajar mengajar di Indonesia. Ekspansi besar-besaran teknologi dan internet turut didukung oleh pemerintah dengan memberikan dukungan pemberian laptop dan beberapa peralatan digital lain untuk menunjang belajar mengajar di sekolah. Hal ini memberikan angin segar dan revolusi besar dalam dunia pendidikan. Dampak lain, berujung pada sebuah istilah “Generasi Merunduk”, sebuah kiasan yang menggambarkan dunia saat ini lebih mementingkan gadget yang digenggamnya daripada lingkungan pembelajarannya. Mengahadapi tuntutan jaman, kegiatan belajar mengajar menjadi peran penting memainkan dan mengembangkan karakter masyarakat. Sangat disayangkan dunia saat ini teknologi berkembang, namun manusianya tidak.

Pendidikan Masa Kini
“Pendidikan adalah senjata paling ampuh yang dapat digunakan untuk mengubah dunia” – Nelson Mandela

Kutipan ini serasa tidak lagi relevan dengan dunia pendidikan saat ini. Begitu besar kemajuan dunia teknologi diluar sana namun tidak diikuti manusianya yang bertambah maju. Adakah yang salah?

Sistem pendidikan Indonesia masa kini belum menemukan titik cerahnya. Rumitnya sistem pendidikan di Indonesia yang selalu mengalami perubahan setiap tahunnya bukan lagi menjadi suatu permasalahan. Hingga tercuap makna “Setiap berganti menteri, maka berganti pula sistem pendidikan kita.”. Bagaimana tidak jika Indonesia telah mengalami pergantian kurikulum sebanyak 10 kali per tahun 2017 ini. Perkembangannya dari tahun ke tahun tidak memberikan efek yang makin membaik, seolah pergerakannya hanya stagnan. Hasil yang diperoleh dari sistem pendidikan masa kini adalah siswa semakin bingung menentukan masa depannya mengarah kemana. Pada kenyataannya, sebanyak 87% mahasiswa merasa mengalami salah jurusan, fenomena ini menjadi hal lumrah pada tingkat universitas.

Dilema yang dialami pada sistem pendidikan tidak berhenti di situ, pada tingkatan yang lebih rendah seperti pada jenjang SD hingga SMA ditemukannya banyak permasalahan. Sistem pendidikan saat ini lebih mendorong siswa untuk berfokus pada belajar dan belajar melalui media pembelajaran di kelas yang pasif. Sistem pendidikan kita seolah lupa akan sifat alamiah manusia dan terutama anak mudah yang aktif bergerak dan mencari tahu. Siswa kehilangan kontaknya dengan lingkungan sekitar membuat mereka terpaku pada belajar untuk mengejar nilai bukan masa depan. Sebanyak 95% siswa melupakan hasil pembelajarannya setelah tiga hari kemudian. Model pembelajaran pembelajaran tersebut terkesan pasif dan mengembangkan karakter siswa. Sistem pendikan ini menyebabkan kerugian uang, waktu, dan usaha. Maka dibutuhkan perubahan pada sistem pendidikan masa kini menjadi lebih menyenangkan dan mendorong siswa menjadi lebih aktif. Salah satunya dengan experience.

Experiential Learning atau pendidikan yang melibatkan anak melalui pengalamannya dalam terlibat di dalamnya. Sebesar 94,7% dari 25 anak, Experiential Learning memberikan dorongan kepada mereka untuk mempunyai tanggung jawab sosial yang kuat. Tidak hanya itu, pendidikan Experiential Learning menurut penelitian membantu siswa untuk mengembangkan sikap positif, mendorong rasa bertanggung jawab, mendorong keterlibatannya di masyarakat, mengembangkan kekuatan pikirannya, dan mendorong mereka untuk memahami kekuatan serta kelemahannya dalam menghadapi perkembangan kompetisi global. Berbagai kelebihan yang ditawarkan pendidikan Experiential Learning ini membantu mereka untuk mengatasi sistem pendidikan yang pasif untuk lebih berkembang terhadap pemahaman mereka akan dunia dan tekanan dunia kerja di masa depan.

BYTe : Bootcamp for Young Technopreneur

BYTe atau Bootcamp for Young Technopreneur adalah kemah yang diselenggarakan selama 3 hari di industri lokal yang mengaplikasikan program  experiential learning untuk meningkatkan keahlian setiap individu untuk dalam penyelesaian masalah, membuat keputusan, mengidentifikasi peluang, menumbuhkembangkan ide inovatif menjadi sebuah bisnis. Siswa akan memahami permasalahan lanskap industri masa kini untuk sebagai modal mereka menghadapi tantangan global masa depan yang semakin masif. Karakter mereka akan dikembangkan dan dipersiapkan menjadi generasi perubahan untuk menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang kompleks sehingga dapat menjadi peluang bisnis yang berdampak.

Selain experiential learning, dalam menghadapi permasalahan dunia yang semakin kompleks dibutuhkannya daya juang tinggi. Menurut United Nation, pentingnya mengkolaborasikan pendidikan entrepreneur dalam sistem pendidikan masa kini untuk melatih berkomunikasi, menyelesaikan masalah, dan kemampuan berwirausahanya. Dengan kondisi sistem pendidikan saat ini, maka dibutuhkan pendidikan entrepreneurial sejak dini yang menyasar kepada anak pada jenjang SMA yang sedang pada tahap pembentukan karakter. Oleh sebab itu, skill entrpreneurial melalui pendidikan experiential learning harus di padukan untuk membentuk karakter yang tangguh.



Ditulis oleh: Christian Putra
Disunting oleh: Stevanus Chandra

About Author
Chandra

Stevanus Chandra

Co-Lead Program of SIDFlo and Designer

Stevanus is an art enthusiast. Art has guided him to engage with various creative works and development. Being an art designer develops his understanding on human being, which l... Read More