Pelajaran Berharga dari Sembulang, Batam

Nov 21 | Opinion | Clarissa Amadhea
Dsc 0232

Oleh: Christian Putra Setiawan

Rasanya baru kemarin saya duduk dan ngobrol bersama Mak Selvi di pelataran rumahnya yang rimbun dengan suasana pedesaan yang begitu kental. Secangkir teh hangat menemani obrolan kami di pagi hari dan tidak lupa, jajanan khas Sembulang yang beragam juga tersedia di atas piring. Memang, selama menyelenggarakan Empathy Project 2018, saya dan tim tinggal bersama Mak Selvi dan keluarganya. Sehingga kami sudah menganggap Mak Selvi seperti ibu asuh kami selama berada di Desa Sembulang ini.

Saya jadi ingat saat hari pertama saya dan tim sampai di Batam, kami masih harus menempuh 1,5 jam perjalanan menuju Desa Sembulang dengan menggunakan mobil biasa. Dalam perjalanan menuju Desa Sembulang, mata kami disuguhkan pemandangan yang luar biasa seperti saat melewati jembatan Barelang yang merupakan salah satu ikon di Batam. Udara dalam perjalanan menuju Desa Sembulang masih sejuk dan pemandangan pantai serta perbukitan juga akan menemani selama di perjalanan. Desa Sembulang memiliki warga yang sebagian besar mendapatkan penghasilan dari laut seperti ikan, kerang, rumput laut, kepiting, cumi-cumi, dan masih banyak lagi. Tidak heran, jika hampir selama 10 hari di Desa Sembulang, kami disuguhi seafood masakan Mak Selvi yang sangat lezat ataupun disuguhi hasil laut lainnya yang bagi anak kos seperti saya, relatif mahal untuk dikonsumsi setiap hari di Jakarta.

Keseharian kami di sini menjadi kesan tersendiri bagi saya. Bagaimana tidak? Biasanya di kota, kami selalu berkutat dengan kemacetan dan hiruk pikuk kehidupan. Pagi-pagi buta, orang sudah berlalu lalang untuk beraktivitas dan berangkat menuju tempat kerja masing-masing. Kehidupan di kota terasa begitu cepat dan dinamis di setiap waktunya. Namun di sini, kami tinggal di tempat yang begitu tenang dan kehidupan dijalani dengan sederhana setiap harinya. Berbeda sekali dengan di kota, bahkan waktu serasa berjalan begitu lambat, tidak banyak aktivitas yang membuat jenuh di sini.

Karena keterbatasan sinyal, kami jarang bermain HP ataupun membuka media sosial. Tentu saja pada awalnya ini menjadi tantangan bagi kami. Selama ini terbiasa menjadi generasi yang setiap harinya tidak bisa lepas dari gadget maupun internet, saat ini kami harus berpuasa atau menahan diri untuk membuka berbagai layanan yang setiap hari dirasakan di kota. Namun, justru hal ini membuat kami menjadi lebih sering berinteraksi, berkumpul, dan ngobrol satu sama lain di teras rumah Mak Selvi. Interaksi nyata antar manusia pun lebih saya rasakan selama berada di sini. Mak Selvi juga selalu berhasil membuat kami tertawa dengan candaan-candaannya. Saya dapat merasakan kehangatan yang sudah lama tidak saya rasakan di kota.

Budaya pedesaan yang ada di Desa Sembulang masih sangat kental. Setiap minggu terdapat aktivitas ‘Goro’ atau Gotong Royong untuk membersihkan desa bersama-sama. Di sini, kegiatan bersih-bersih desa sudah merupakan sebuah kebiasaan tidak hanya bagi orang dewasa namun juga anak kecil yang turun tangan dalam kegiatan bersih-bersih ini. Kebersihan merupakan hal utama yang dijunjung tinggi oleh masyarakat Desa Sembulang. Bahkan, warga meiliki guyonan yang terkenal di kalangan mereka: ‘bagi siapapun yang membuang sampah sembarangan, maka ia akan berumur pendek’. Guyonan ini sangat popular diantara masyarakat sehingga siapapun yang tinggal di Sembulang, wajib hukumnya untuk menjaga kebersihan.

Selain itu, terdapat berbagai kegiatan yang menciptakan kebersamaan di Desa Sembulang. Misalnya, hampir setiap sore setelah para ibu-ibu menyelesaikan pekerjaan rumahnya, mereka akan berkumpul untuk bermain voli di lapangan desa. Mak Selvi salah satunya. Bahkan, beliau merupakan atlit voli Desa Sembulang. Ia sering diutus ke Batam untuk mewakili Sembulang dalam pertandingan voli tingkat kota. Mak Selvi juga aktif mengajak ibu-ibu di Sembulang untuk bermain voli setiap sore. Sehingga, olahraga voli ini menjadi aktivitas rutin mengisi waktu luang sekaligus sebagai aktivitas olahraga bersama para ibu-ibu di Sembulang. Sesuatu yang tentunya sudah jarang sekali saya temukan di kota.

Malam hari adalah waktu untuk berkumpul dengan keluarga masing-masing. Suasana di Sembulang pun menjadi sangat sunyi karena setelah shalat Maghrib, masyarakat bekumpul dengan keluarga di rumah masing-masing. Seperti keluarga Mak Selvi yang menghabiskan malam dengan makan bersama, menonton TV, atau bercerita bersama anak-anaknya. Pada jam 9 malam, biasanya masyarakat sudah beristirahat dan mempersiapkan diri untuk beraktivitas kembali di hari esok.

Tinggal di desa Sembulang merupakan pengalaman yang tak terlupakan bagi saya. Perbandingan kontras yang saya rasakan karena terbiasa hidup di kota dengan pola hidup yang cenderung individual, praktis, dan hiruk pikuk yang mengakibatkan waktu berjalan serasa begitu cepat dibandingkan dengan kehidupan di Desa Sembulang yang mengutamakan kehangatan, kerukunan, kekeluargaan, dan kesederhanaan, mendorong saya untuk lebih memaknai hidup. Bahwa ternyata, ada banyak kebahagiaan yang bisa didapatkan dengan cara yang sederhana namun sarat akan makna.

About Author
Foto dhea

Clarissa Amadhea

Co-Lead Program of SIDPub

Clarissa has been volunteering since her teenage years. Mostly, she volunteered on educational causes for youth. She also has a long-standing interest in art and media productio... Read More