Menyusup Ke Balik Kulit Warga Sembulang, Batam

Nov 9 | Opinion | Clarissa Amadhea
Dsc04044


Oleh: Lalu Abdul Fatah

"You never really understand a person until you consider things from his point of view, until you climb inside of his skin and walk around in it."

-Atticus Finch dalam novel To Kill a Mockingbird

Bertahun-tahun silam saat masih kuliah, saya tuntas membaca novel laris karya Harper Lee yang berjudul To Kill a Mockingbird. Salah satu kutipan paling populer dari novel itu adalah perkataan tokoh Atticus Finch yang saya pakai untuk membuka tulisan ini. “Kau tidak akan dapat memahami seseorang hingga kau melihat segala sesuatu dari sudut pandangnya, hingga kau menyusup ke balik kulitnya dan menjalani hidup dengan caranya.”

Pesan berharga dari novel yang saya baca versi terjemahannya itu adalah pelajaran empati dan tidak mudah menghakimi orang lain hanya dari penampilan luarnya saja. Pelajaran ini makin menguat ketika saya dan 29 finalis Bootcamp for Young Technopreneur dari berbagai daerah di Indonesia datang ke Desa Sembulang, Batam.

Pada hari pertama, saat sore mulai menyapa, kami diajak oleh kakak-kakak panitia untuk keliling desa dengan berjalan kaki. Dari dekat, kami bisa menilik tong-tong sampah plastik warna biru yang diletakkan di depan rumah warga. Para warga dibiasakan untuk memilah sampah berdasarkan kategori: plastik, kertas, logam, dan umum. Satu shelter tong sampah ini untuk beberapa keluarga. Warga pun bisa saling kontrol satu sama lain.

Aktivitas kami keliling desa yang terletak di pinggir pantai itu juga dalam rangka perkenalan kami dengan warga. Kami, misalnya, mendekati warga yang sedang memperbaiki jaringnya untuk menangkap ikan. Kami bercakap-cakap tentang desa ini. Mulai dari kegiatan warga, kondisi tanah, sumber daya, dan sebagainya. Kami merekam dan mengamati. Tak lain biar kami bisa memahami lingkungan di mana kami berada. Sehingga kami tahu bagaimana harus berpikir, merasakan, dan bertindak-tanduk. Bukankah dikatakan, “Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung.”

Pelan-pelan ‘semesta’ Desa Sembulang terbangun di otak kami. Kami yang muslim ikut salat berjamaah di masjid. Kala lowong, kami duduk-duduk sejenak di warung kopi. Kami menikmati hidangan khas laut yang dimasak oleh warga. Kami menyimak logat Melayu orang-orang. Bahkan, yang mengesankan adalah kami dibagi dalam kelompok dan tinggal di rumah warga. Klop sudah!

Untuk apa? Biar kami bisa merasakan denyut nadi orang-orang Sembulang dari jarak dekat. Mandi dengan air sumur yang biasa mereka pakai. Menikmati sarapan yang biasa mereka makan. Minum air yang biasa mereka minum. Tidur di kasur yang biasa mereka tempati di hari-hari sebelum kedatangan kami. Duduk-duduk sambil mengobrol santai dengan tuan rumah, entah di ruang tamu atau ruang tengah. Intinya, kami, anak-anak muda ini dilatih untuk melihat dengan mata warga, mendengar dengan telinga warga, juga merasakan dengan hati warga. Empati, demikian sederhananya.

Kami kian tertempa ketika ditantang untuk menciptakan solusi bagi UMKM kuliner lokal di Sembulang. Tiap dua kelompok mengunjungi satu UMKM. Ada tiga UMKM yang disediakan oleh panitia, yakni: kue putu piring, bolu cermai, dan otak-otak.

Kami tidak hanya melakukan observasi dan wawancara, laiknya kerja jurnalis atau mahasiswa yang sedang penelitian skripsi. Lebih dari itu, kami juga harus ikut bekerja! Ya, masing-masing dari kami harus terjun langsung dan mencoba aktivitas yang dilakukan oleh ibu yang menjalankan usaha kulinernya itu.

Kelompok saya, misalnya, kebagian UMKM kue putu piring. Di rumah panggung Mak Jaiyah (60 tahun) yang berada di pinggir laut, kami ikut berkutat. Dengan contoh dan instruksi yang diberikan oleh Mak Jaiyah, tangan kami menggiling beras dengan batu, mengayak tepung, membuat adonan di sendok, meletakkannya di atas kain, mengukusnya satu persatu di atas ketel air, sampai menyajikannya di atas daun pisang dengan taburan kelapa parut.

Aroma adonan kue putu piring yang harum menggoda; warnanya yang alami kekuningan karena dicampur kunyit; rasanya yang gurih, asin, dan manis; teksturnya yang lembut dan lumer di mulut; adalah sedikit dari pengalaman indrawi kami di ruang tengah rumah Mak Jaiyah.

Sambil bercakap, mengamati, dan menggali cerita beliau, kami benar-benar ikut bertualang dalam pembuatan kue putu piring itu. Kami ikut merasakan beratnya gilingan batu, juga panasnya uap air dari ketel. Tangan kami yang terbiasa memegang gawai dan laptop berjam-jam, dilatih untuk luwes sekaligus kuat mengerjakan semuanya.

Langkah akhir adalah … kami ditantang untuk menjajakannya keliling desa! Syukurlah, kami berhasil menjual semuanya. Meskipun jauh di lubuk hati kami bertanya-tanya, warga membeli kue bikinan kami ini karena iba atau demi menyemangati kami.

Ah, terpenting adalah kami bisa belajar banyak menggunakan fisik dan rohani kami dalam proses ini. Kami akhirnya bisa menakar-nakar dalam diri, sejauh mana empati kami tumbuh. Sedalam apa kami bisa menyelami samudera pikiran dan perasaan Mak Jaiyah yang hampir 30 tahun membuat kue putu piring ini demi menambah biaya sekolah anak-anaknya.

Lantas, tantangan berikutnya adalah bagaimana kami mendayagunakan potensi sumber daya di Desa Sembulang untuk menciptakan prototype alat untuk memudahkan kinerja Mak Jaiyah. Begitu pula kelompok lain dengan UMKM yang mereka datangi. Kami mengumpulkan bahan-bahan material yang ada di desa. Entah itu, tempurung kelapa, patahan kayu, botol plastik, kertas, kardus bekas, dan lain-lain. Itulah yang kami rancang pada malam hari, lalu presentasikan keesokan harinya di depan juri dari Sociopreneur Indonesia, lurah Desa Sembulang, juga para peserta BYTe.

Sebagai peserta dengan asal terjauh, yakni Lombok, datang ke Desa Sembulang di Batam, merupakan pengalaman yang luar biasa. Tak secuil pun kerugian yang saya dapatkan. Tinggal di rumah warga, menikmati kuliner khas laut, menghirup udara segar pedesaan, membasuh mata dengan lingkungan yang bersih dari sampah, mendengarkan nyanyian Melayu pada malam penutupan acara adalah beberapa hal yang akan terus saya ingat dalam memori saya. Pengalaman 4 hari 3 malam itu akan tumbuh dalam diri saya. Saya berharap ia akan tumbuh rindang sekaligus berbuah sehingga bisa dinikmati oleh sekeliling saya.

Jika Christopher McCandless dalam film Into The Wild mengatakan, “Happiness is real when shared,” maka menulis pengalaman ini adalah salah satu ikhtiar saya membagikan kebahagiaan tersebut. Semoga ia menjelma nyata.

***

Lalu Abdul Fatah lahir dan tumbuh remaja di Lombok. Saat ini berdomisili di Surabaya. Ia telah menulis 17 buku, kebanyakan genre perjalanan (traveling). Selain mengajar Ecotourism di Surabaya Hotel School, ia juga aktif menjadi narasumber dan mentor pelatihan menulis, mulai dari level SD sampai universitas. Ia bisa dihubungi melalui Instagram @laluabdulfatah.

About Author
Foto dhea

Clarissa Amadhea

Co-Lead Program of SIDPub

Clarissa has been volunteering since her teenage years. Mostly, she volunteered on educational causes for youth. She also has a long-standing interest in art and media productio... Read More