Belajar Berdamai di Global Youth Peace Festival 2018

Oct 22 | Opinion | Clarissa Amadhea
42878914 2388628621164522 4727187099290173440 n

Awal bulan ini, saya mewakili tim Sociopreneur Indonesia mendapat kesempatan untuk belajar ke Chandigarh, India. Selama berada di Chandigarh, saya bertemu dengan para aktivis muda dari seluruh penjuru dunia. Suatu kebanggaan tersendiri bagi saya mewakili tim saat menerima Youth Leadership Award dengan delegasi terpilih dari 30 negara lainnya. Global Youth Peace Festival kali ini sudah memasuki tahun ke-13 dengan tujuan mengumpulkan para aktivis muda dari seluruh dunia untuk mendiskusikan agenda dan membuat sebuah action plan yang dapat dicapai bersama demi mewujudkan masa depan yang lebih baik untuk generasi selanjutnya. Acara ini ingin membangun sebuah kepercayaan bahwa sekecil apapun hal positif yang sudah dilakukan, tanpa memandang sektor yang digeluti, semuanya sedang dalam proses mencapai sebuah tujuan yang sama, yaitu untuk menciptakan perdamaian dan kehidupan yang lebih baik di masa yang akan datang.

Banyak pelajaran-pelajaran yang saya dapatkan selama mengikuti rangkaian kegiatan Global Youth Peace Festival 2018. Seorang keynote speaker pada acara pembukaan mengatakan bahwa dalam forum ini apapun yang telah dilakukan oleh delegasi di negaranya masing-masing tidak dapat dihakimi salah atau benarnya, yang terpenting adalah bahwa setiap delegasi sudah berani mengambil aksi, sekecil apapun itu. Namun, ada satu hal dari pidatonya yang berhasil memengaruhi saya, sebuah ungkapan pada bagian penutup yang berbunyi “Peace begins with a smile”. Sebuah ungkapan yang sangat sederhana. Bahkan bagi saya, butuh waktu untuk memahami mengapa pada forum besar seperti ini, kalimat penutup yang diberikan dalam pidato pembukaan bisa sesederhana itu. Saya terus bertanya-tanya, ”apa hubungannya?”

Singkat cerita, ungkapan tersebut menimbulkan rasa penasaran yang luar biasa. Apa yang spesial dari sebuah senyuman dan mengapa kata damai yang memiliki arti begitu besar berasal dari sebuah senyuman yang kesannya sederhana sekali? Selama memikirkan arti ungkapan tersebut, saya bahkan sempat membathin untuk apa jauh-jauh ke India jika hanya pelajaran sederhana seperti itu saja yang berkesan bagi saya. Namun sekarang saya menyadari, hal kecil seperti ini lah yang sering dilupakan. Memang, tersenyum itu mudah. Namun, senyum yang tulus hanya bisa muncul ketika seseorang sedang berada dalam perasaan yang damai.

Ungkapan tersebut semakin saya pahami ketika kemarin pagi, saat saya sedang berada di kamar mandi, saya memberanikan diri untuk berbicara pada pantulan diri saya di cermin. Saya memberanikan diri untuk mengatakan bahwa saya bangga dengan jatuh bangun perjuangan saya sejauh ini dan saya juga menyempatkan diri untuk memberikan apresiasi pada diri saya sendiri, betapa saya tidak ingin mengubah apapun dari fisik saya dan berterima kasih kepada tubuh saya atas kesetiaannya menemani saya selama ini. Terlihat aneh, namun ternyata setelah itu, saya merasa sangat tenang. Benarlah sekiranya bahwa damai datang dari dalam diri sendiri.

Hal sederhana lain seperti tante saya yang selalu mengawali hari dengan memilih satu diantara dua buah pilihan: ingin melalui hari dengan perasaan senang atau perasaan sedih? Sederhana sekali, jika sudah memilih senang, maka apapun yang terjadi hari itu harus dilewati dengan perasaan senang dan penuh senyuman. Tentunya, damai juga merupakan sebuah pilihan.

Berdamai dengan diri sendiri bagi saya membutuhkan keberanian, menghilangkan gengsi dan membutuhkan rasa syukur yang besar. Menurut saya, selama ini konsep perdamaian dibuat dengan kesan yang besar, sesuatu yang muncul setelah adanya konflik. Kita sering berfokus pada hal-hal besar yang membuat kita lupa bahwa ada hal-hal kecil yang harus diperhatikan. Kenyataannya, konsep damai adalah hal yang sangat sederhana. Sesederhana rasa syukur dan senyuman yang berasal dari diri kita sendiri.

About Author
Foto dhea

Clarissa Amadhea

Co-Lead Program of SIDPub

Clarissa has been volunteering since her teenage years. Mostly, she volunteered on educational causes for youth. She also has a long-standing interest in art and media productio... Read More