Empathy Case

Sep 1 | Insight | Dessy Aliandrina, Ph.D
Empati 3


Empathy is about standing in someone else’s shoes, feeling with his or her heart, seeing with his or her eyes. Not only is empathy hard to outsource and automate, but it makes the world a better place.” Daniel H. Pink

Berbagi cerita dan pengalaman di berbagai perguruan tinggi belakangan ini mengingatkan saya pada salah satu tugas di salah satu kelas yang saya ampu. Saya meminta mahasiswa untuk membentuk tim yang terdiri dari dua orang pertim. Mereka harus melakukan tugas untuk berjualan di pasar tradisional untuk salah satu produk/komoditas, yaitu sayuran, buah-buahan, atau mainan anak.

Syaratnya cukup sederhana, yaitu durasi, modal dan identitas. Untuk durasi, tugas ini harus dilaksanakan selama dua hari berturut-turut, sehingga jika satu hari terlewat maka mereka harus mengulang kembali dari awal. Sedangkan untuk modal, dilakukan pembatasan sebanyak maksimum Rp.30.000,- (tiga puluh ribu rupiah). Untuk identitas, para mahasiswa ini tidak diperbolehkan mengaku sebagai mahasiswa dan menjalankan tugas kuliah. Mereka harus mampu berbaur di pasar tradisional dan dokumentasi dilakukan secara tersembunyi karena tidak diperbolehkan membawa gadget dan perlengkapan yang dapat menjelaskan identitas mereka.

Respon atas tugas ini beragam dan memunculkan beragam pertanyaan yang tidak saya sangka-sangka. Salah satunya adalah menentukan mana yang termasuk pasar tradisional dan mana yang tidak. Ternyata bahkan ada yang belum pernah ke pasar tradisional sehingga tidak memiliki bayangan seperti apa pasar tradisional tersebut.

Menjelang minggu pelaksanaan tugas, para mahasiswa semakin rajin bertanya, baik pertanyaan teknis hingga pertanyaan ngawur. Atmosfir kelas menjadi riuh dengan beragam pertanyaan itu seiring dengan bermunculannya beragam emosi. Ada yang kuatir, antusias, dan bingung namun ada juga yang santai seolah tidak terjadi apa-apa.

Minggu eksekusi berjalan dengan beragam cerita yang mereka tuangkan kedalam laporan individual. Ada yang mengalami ketakutan luar biasa karena ada petugas kamtib dan Satpol PP melakukan penertiban. Ada yang kehilangan uang yang merupakan hasil penjualan karena kantong plastik penyimpan uang robek. Ada yang dagangannya ditawar habis-habisan lalu si calon pembeli tidak jadi membeli. Namun ada juga yang dagangannya diborong satu pembeli karena teringat anaknya seusia mereka yang sedang merantau untuk bersekolah. Dan ada juga yang ditawari pekerjaan karena kasihan melihat mereka mesti berjualan ditengah panas terik.

Disaat yang bersamaan mereka mulai menyadari bahwa begitu berat perjuangan para pedagang kecil ini. Mereka merasakan bangun dini hari (ada yang jam 2 pagi) dan kemudian harus belanja ke grosir/agen untuk mendapatkan produk dengan harga murah karena modal terbatas. Dari sana harus ke pasar, mencari tempat untuk menggelar dagangan. Jangan dipikir mereka bisa menyewa lapak, modal Rp.30.000,- sebagian besar digunakan untuk membeli produk. Jadi menggelar dagangan dipinggir jalan atau disudut toko adalah yang pilihan paling mungkin.

Tugas ini adalah bagian dari kelas Social Entrepreneurship untuk mengenalkan yang namanya ‘EMPATI’ sehingga mahasiswa dapat memahami apa maksud kata ini.

Empati menjadi kata yang semakin pudar ditengah arus kemajuan teknologi. Miris rasa hati melihat beberapa kejadian ditanah air karena pudarnya empati. Ada kisah bagaimana sekumpulan anak muda yang menginjak-injak taman bunga hanya untuk berfoto, ada juga kisah seorang anak difasilitasi dengan fasilitas negara karena jabatan orangtuanya, atau yang paling sederhana saja ketika seorang berkuasa minta didahulukan dalam sebuah antrian. Namun ditengah kemirisan ini, juga banyak anak muda yang menggagas aktifitas mengasah empati, seperti gerakan menjadi pengajar sehari, mendorong tumbuhnya kemampuan sosial anak dengan permainan tradisional, program literasi keuangan, atau inisiatif penggalangan bantuan dengan menggunakan berbagai platform digital.

Melalui tugas ini mahasiswa diharapkan semakin menyadari bahwa ditengah kerumitan dan keruwetan berbagai persoalan disekeliling kita, mereka tetap dapat berkontribusi walau sekecil apapun. Bukan besar kecilnya tindakan yang dilakukan menjadi ukuran kontribusi namun konsistensi untuk mau terlibat dan menjadi bagian solusi atas persoalan yang ada. Hal ini diharapkan terbangun sejalan dengan tumbuhnya empati.

Empathy is a tool for building people into groups, for allowing us to function as more than self-obsessed individuals.” (Neil Gaiman)


About Author
Dessy

Dessy Aliandrina, Ph.D

Founder | Executive Director

It was the spirit of "wanting to build something" that drove Dessy to explore her interests on connecting the unconnected, giving meaning to the unnoticed, providing values to t... Read More