AHAI: Anak Hebat Anak Indonesia

Feb 27 | Case Study | Stevanus Chandra
Dsc 3686


“Indonesia adalah negeri budak. Budak di antara bangsa dan budak bagi bangsa-bangsa lain.”

- Pramoedya Ananta Toer, Jalan Raya Pos, Jalan Daendels

Kutipan di atas sarat akan makna. Rasanya masih terdapat relevansi yang kuat dari tahun ditulisnya buku Jalan Raya Pos, Jalan Daendels pada tahun 1995, dengan kondisi Indonesia saat ini. Pasalnya, Indonesia masih menggantungkan segala aspek sosial ekonomi kepada pihak asing. Pada sektor perbankan misalnya, 50,6% aset perbankan nasional dimiliki asing. Terdapat 12 bank swasta yang asetnya dimiliki investor luar seperti ANZ (99%), UOB (98,84%), HSBC (98,96%), dan CIMB Niaga (97,93%). Sektor pertambangan juga menunjukkan kondisi serupa. Pertambangan di Indonesia telah banyak dikuasai oleh investor asing, dengan 70% pada industri Migas, 75% bauksil, nikel, batu bara, dan timah, serta 85% tembaga dan emas. Masih banyak sektor lain yang juga memiliki kondisi tidak berbeda, seperti 8.9 juta perkebunan sawit di Indonesia dikuasi investor asing. Ketiga sektor ini merupakan sedikit dari banyak sektor yang mayoritas kepemilikkannya tidak dimiliki oleh Indonesia. Tentunya, kondisi tersebut sangatlah berdampak terdahap lanskap ekonomi dan sosial, serta menimbulkan beragam masalah yang sangat kompleks.

Perlu dicermatai bahwa terdapat satu masalah yang memiliki urgensi tersendiri. Berbeda dengan tantangan ekonomi seperti pemaparan sebelumnya, masalah ini dapat memicu output yang serupa. Terdapat perkembangan teknologi sebagai pemicunya. We Are Social menyatakan bahwa terdapat perkembangan teknologi dan penetrasi internet Indonesia sebesar 51% dengan jumlah 132,7 juta pengguna internet per Januari 2017. Implikasinya beragam, salah satu dampak negatif yang timbul adalah fenomena internet hoax. Hal ini terjadi atas lemahnya kontrol masyarakat terbadap konten yang disebarkan maupun dikonsumsi di media sosial. Berbagai langkah telah dilakukan oleh pemerintah sebagai instrumen bela negara seperti penyusunan undang undang yang mengatur sanksi pada pihak yang menyebarkan hoax. Sayangnya, bentuk pencegahan tersebut dinilai masih belum dapat menyelesaikan inti masalah dari internet hoax.
Dalam menyelesaikan berbagai tantangan yang dialami oleh Indonesia, dibutuhkan solusi yang menyasar dari hulu ke hilir. Bukan hanya bermain pada level peraturan dan regulasi. Indonesia harus mengembangkan ekosistem pengembangan manusia seutuhnya. Dengan kata lain, solusi yang dibutuhkan haruslah mampu menyasar seluruh masyarakat sampai ke tempat yang sangat dekat dengan kemiskinan. Lebih spesifik, solusi tersebut harus mampu mengembangkan sumber daya manusia usia dini, karena merekalah generasi penerus Indonesia.




Early Education as Solution
“For children play is as natural as breathing — and as necessary.”

Indonesia telah menjadi salah satu emerging market (EM) country terbaik dalam ekonomi global saat ini[1]. Apabila Indonesia ingin tetap dapat berkompetisi secara global, diperlukan tenaga kerja masa depan yang telah dipersiapkan secara matang. Pada realitanya, anak muda yang nantinya menjadi innovator, edukator, politikus, entrepreneur, dan profesional masa depan, belum mencapai ekspektasi yang sesuai dengan apa yang dibutuhkan dalam 10–20 tahun ke-depan. Bukan berarti bahwa mereka tidak dilatih keterampilannya secara baik, namun kurangnya aspek emosional dan kreativitas menjadi faktor penentu adanya gap antara apa yang dibutuhkan di masa mendatang. Jauh dari harapan, Indonesia masih menduduki peringkat 115 dunia untuk Global Creativity Index[2], 87 dunia untuk Global Innovation Index[3], dan 101 dunia untuk Global Entrepreneurship Index[4]. Early education atau pendidikan dini merupakan sebuah solusi atas permasalahan dan tantangan yang dialami oleh Indonesia. Pendidikan dini yang seperti apa? Pendidikan dini yang mampu memberikan solusi dari apa yang dibutuhkan dalam 21st century skills. Pendidikan dini yang solutif menitikberatkan terhadap dua hal, empati dan kreativitas dalam meingkatkan skills seperti initiatif, persistensi, adaptasi, kepemimpinan, dan global citizenship[5].

Empati

Empati merupakan salah satu bahan bakar yang penting bagi setiap individu. Dalam konteks pendidikan dini, empati mengajarkan mengenai kejujuran, toleransi, dan kasih sayang. Ketiga elemen ini dapat berdampak terhadap beragam hal. Bagaimana anak-anak memiliki cita-cita, perspektif mereka akan dunia, dan cinta tanah air adalah sedikit dari banyak output yang dihasilkan melalui adanya empati. Empati memberikan sebuah pondasi yang kuat dalam membentuk sifat dasar anak dalam menghadapi adanya intervensi.

Kreativitas

Aspek lain yang penting dalam pendidikan dini adalah kreativitas. Kreativitas dalam hal ini menekankan pada pentingnya sebuah proses. Bagaimana dunia yang berkembang secara progresif ke arah product-driven, menjadikan kreativitas penting dalam mengajarkan anak bahwa proses mencapai tujuan menjadi lebih penting dari pada tujuan itu sendiri. Pentingnya mendorong anak dalam berimajinasi dan memiliki ide orisinil dalam menghasilkan ide atau keluaran yang inovatif. Kreativitas menjadi stimulus terbaik bagi anak dalam pendidikan dini dalam menjadikan mereka sebagai inovator dan entrepreneur masa depan.




AHAI: Anak Hebat Anak Indonesia
“Education is the most powerful weapon which you can use to change the world.”-Nelson Mandela

Anak Hebat Anak Indonesia (AHAI) didesain untuk siswa sekolah dasar dengan memberikan stimulus agar mereka dapat berpikir kreatif dan imaginatif dalam menyelesaikan masalah, bekerja sebagai tim, dan meningkatkan keterampilan berkomunikasi. AHAI merupakan intensive experiential learning program dalam meningkatkan keterampilan siswa melalui serangkaian permainan kretivitas.

Opportunities

  • Tingginya angka partisipasi murni (APM) jenjang sekolah dasar sebesar 93,73 % tahun 2016/2017[7]. Artinya, duplikasi program AHAI memiliki potensi yang besar, dengan jumlah target yang juga sama besarnya.


  • Bukan hanya melalui lembaga/institusi sekolah dasar, AHAI dapat diselenggarakan di hampir semua bentuk lembaga pendidikan, baik formal maupun non-formal. Seperti acara AHAI terakir di Sekolah Alam Tunas Mulia, Bantar Gebang, Bekasi.

  • Philanthropic capital dalam bentuk zakat berpotensi tumbuh menjadi Rp 23,4 miliar, 4% dari PDB Indonesia[8]. Selain itu, adanya trend CSR yang menyasar pada bidang edukasi, menjadikan peluang tersendiri.

  • Terdapat momentum pada socio-economic Indonesia melalui kehadiran Impact Investment lokal maupun internasional.


Challenges

  • Aktivitas Social Enterprise (SE) lainnya, terlalu berfokus pada area urban, sehingga sulit bagi SociopreneurID untuk dapat menyebarkan visi dan misi dari acara AHAI itu sendiri, melihat bahwa permasalahan yang ada mencakup daerah terluar dan marginal.

  • Dibutuhkan aksi kolaboratif yang nyata dalam menjadikan AHAI sebagai program yang sustainable, sehingga dapat terus memberikan impact yang diharapkan.


[1] https://www.cnbc.com/2016/09/30/indonesian-economy-becomes-a-standout-among-emerging-markets.html

[2] http://martinprosperity.org/media/Global-Creativity-Index-2015.pdf
[3] https://knoema.com/atlas/topics/World-Rankings/World-Rankings/Global-innovation-index?baseRegion=ID
[4] https://knoema.com/atlas/topics/World-Rankings/World-Rankings/Global-entrepreneurship-index?baseRegion=ID
[5] The 2014 Skoll World Economic Forum’s vision for 21st century education
[6] http://www.hbs.edu/socialenterprise/Documents/MeasuringImpact.pdf[7] http://publikasi.data.kemdikbud.go.id/uploadDir/isi_FC1DCA36-A9D8-4688-8E5F-0FB5ED1DE869_.pdf[8] AVPN: Social Investment Landscape in Indonesia

About Author
Untitled 2

Stevanus Chandra

Co-Lead Program, Designer, and Researcher

Stevanus is an art enthusiast. Art has guided him to engage with various creative works and development. Being an art designer develops his understanding on human being, which l... Read More