Peranan Bisnis dalam Pengembangan Kualitas Anak

May 11 | Opinion | Arief R Ramadhan
Dsc 3857

We are not the sources of problems; we are the resources that are needed to solve them. We are not expenses; we are investments. We are not just young people; we are people and citizens of the world.

- ‘A World Fit for Us’, Message from the Children’s Forum, 5-7 May 2002, United Nations Special Session on Children

30% anak-anak di Indonesia tidak mendapatkan akses kepada pendidikan dini. 1 dari 4 anak di bawah 18 tahun telah menikah.  57% anak-anak hidup dua kali di bawah garis kemiskinan (Unicef, 2017). Data-data tersebut mengisyaratkan bahwa anak-anak merupakan permasalahan yang harus diselesaikan. Kita melihat anak-anak sebagai sebuah permasalahan dan bukan sebagai sebuah leverage untuk mendorong perubahan yang lebih baik dalam mencapai sustainability.

Perspektif tersebut juga merupakan pandangan yang diadopsi oleh bisnis. Permasalahan anak dipandang tidak relevan untuk meningkatkan nilai bisnis di seluruh rantai prosesnya. Oleh karena itu, inisiasi terhadap penyelesaian permasalahan anak-anak masih terbilang rendah.

Hingga saat ini, isu yang sering diangkat dari peran bisnis terhadap anak-anak hanya berfokus pada penghapusan serta pencegahan tenaga kerja anak. Bisnis tidak melihat secara penuh peranan dan dampak yang ia berikan kepada anak-anak dari seluruh business process yang dilakukan. Pembangunan kesadaran oleh bisnis untuk memahami mengenai dampak aktivitas bisnisnya terhadap anak-anak menjadi penting untuk ditingkatkan.

Pentingnya Mendorong Pendidikan Anak-Anak

Education is not preparation for life; education is life itself.

- John Dewey

Memandang anak-anak sebagai sebuah investasi merupakan hal yang perlu dipahami oleh seluruh bisnis. Dengan sudut pandang tersebut, pembangunan anak-anak dari segi pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan menjadi penting untuk dikembangkan.

Dari segi pendidikan, terdapat berbagai cara untuk bagi bisnis untuk mendorong pendidikan anak-anak. Bisnis saat ini hanya berfokus pada pembangunan infrastruktur pendidikan serta aksesibilitas, namun mengabaikan pengembangan kualitas anak-anak. Hal tersebut bisa dimengerti karena sejatinya pembangunan kualitas anak-anak merupakan sebuah pekerjaan yang berat dan memakan sumber daya yang besar.

Hadirnya 21st century skills yang dikembangkan oleh World Economic Forum pada tahun 2015 mendorong perlunya pengembangan kemampuan anak secara komprehensif mulai dari fondasi literasi, kompetensi, hingga kualitas karakter. World Economic Forum juga menyatakan bahwa pembangunan kemampuan tersebut sangat penting untuk dimulai sedini mungkin.

SociopreneurID telah bekerja sama dengan berbagai perusahaan untuk mendorong tumbuhnya lifelong learner yang memiliki entrepreneurial mindset kepada anak-anak dari umur 5 tahun hingga 18 tahun melalui berbagai program yang dikembangkan. Terdapat berbagai program yang dikembangkan oleh SociopreneurID, seperti Aku Anak Indonesia Hebat (AHAI), Be a Creative Innovator (B-Creator), Bootcamp for Young Technopreneur (BYTe), Festival of Social Creativity (FeSoVity), dan berbagai program lainnya.

Anda dapat mempelajari selengkapnya mengenai program yang dikembangkan oleh SociopreneurID untuk membangun kualitas anak-anak melalui pendidikan. Klik disini untuk mempelajari selengkapnya.

About Author
Arief

Arief R Ramadhan

Web Developer and Researcher

Arief developed his passions on web development, video/photography, and graphic design since he was in high school. He strengthened his passions by taking part in various events... Read More